Rabu, 17 Oktober 2012

Kasus Enron Corporation


           Enron Corporation didirikan pada 1930 sebagai Northern Natural Gas Company, sebuah konsorium dari Northren American Power and Light Company, Lone Star Gas Company, dan United Lights and Railways Corporation. Kepemilikan konsorsium ini secara bertahap dan pasti dibubarkan antara 1941 dan 1947 melalui penawaran saham kepada publik. Pada tahun 1979, Northern Natural Gas mengorganisir didinya sebagai sebuah holding company, InterNorth, yang menggantikan Northern Natural Gas di pasar Saham New York ( New York Stock Exchange ).
Enron Corporation merupakan sebuah perusahaan energi Amerika yang berbasis di Houston, Texas, Amerika Serikat. Sebelum bangkrutnya pada akhir 2001, Enron mempekerjakan sekitar 21.000 orang pegawai dan merupakan salah satu perusahaan terkemuka di dunia dalam bidang listrik, gas alam, bubur kertas dan kertas, dan komunikasi. Enron mengaku penghasilannya pada tahun 2000 berjumlah $101 milyar. Fortune menamakan Enron “ Perusahaan Amerika yang Paling Inovatif “ selama enam tahun berturut – turut.
Enron menjadi sorotan masyarakat luas pada akhir 2001, ketika terungkap bahwa kondisi keuangan yang dilaporkannya didukung terutama oleh penipuan akuntansi yang sistematis, terlembaga, dan direncanakan secara kreatif. Operasinya di Eropa melaporkan kebangkutannya pada 30 November 2001, dan dua hari kemudian, pada 2 Desember 2001, dunia ekonomi dikejutkan dengan berita yang berasal dari kota minyak Houston di Texas, amerika. Enron, perusahaan ketujuh terbesar di Amerika, perusahaan energi perdagangan terbesar di dunia menyatakan dirinya bangkrut. Saat itu, kasus itu merupakan kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS dan menyebabkan 4.000 pegawai kehilangan pekerjaan mereka.
Sekitar awal tahun 2001, beberapa dugaan tentang transaksi bisnis Enron mulai muncul ke permukaan. Seorang banker investasi yang terkenal secara umum menyatakan bahwa tidak seorang pun bisa menjelaskan bagaimana Enron sebenarnya mendapatkan uang. Tambahan lagi, ia merujuk pada ucapan yang ganjil dan samar dari dokumen Enron tentang transaksi yang dilakukan oleh Enron dan “ Entitas “ lain dengan “ pihak terkait “ yang dijalankan oleh “ pejabat senior Enron “. Namun, penyikapan ini sulit dipahami. ( sumber: www.gudangkuliah.com/analisis-kasus-skandal-enron/ )
Bangkrutnya Enron Corporation sangat mengejutkan bagi pelaku bisnis global. Kebangkrutan Enron tidak hanya menandakan sebuah kegagalan bisnis, melainkan merupakan skandal yang multidimensional yang melibatkan pimpinan tinggi Amerika Serikat.
Pelanggaran kode etik yang dilakukan Enron Corporation:
1.      Selama tujuh tahun terakhir, Enron melebih – lebihkan laba bersih dan menutup – tutupi utang mereka. Auditor independen, Arthur Andersen, dituding ikut berperan dalam “ menyusun “ pembukuan kreatif Enron. Lebih buruk lagi, kantor hukum yang menjadi penasihat Enron, Vinson & Eikins, juga dituduh ikut ambil bagian dalam korupsi skala dunia ini dengan membantu membuka partnership – partnership konroversial yang dianggap sebagai biang keladi dari kehancuran Enron.
2.      Enron mendirikan kongsi dengan  seorang partner dagang. Partner dagang mereka biasanya hanya satu untuk setiap partnership dan kongsi dagang ini menyumbang modal yang sangat sedikit, sekitar 3% dari jumlah modal keseluruhan.
3.      Enron tidak pernah mengungkapkan operasi dari partnership – partnership tersebut dalam laporan keuangan yang ditujukan kepada pemegang saham dari Security Exchange Commission ( SEC ), badan tertinggi penghawasan perusahaan publik di Amerika.
4.      Enron memindahkan utang – utang sebesar 690 juta dolar AS yang ditimbulkan induk perusahaan terlihat sangat atraktif, menyebabkan harga saham Enron melonjak menjadi 90 olar As pada bulan Februari 2001. Perhitungan menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tersebut, Enron telah melebih – lebihkan laba mereka sebanyak 650 juta dolar AS.
5.      Adanya ketidakberesan dalam laporan pembukuan Enron. Satu bulan kemudian, Enron mengumumkan kerugian sebesar 600 juta dolar AS dan nilai aset Enron menyusut 1,2 triliun dolar AS. Pada laporan keuangan yang sama diakui, bahwa selama tujuh tahun terakhir, Enron selalu melebih – lebihkan laba bersih mereka. Akibat laporan mengejutkan ini, nilai saham Enron mulai anjlok dan saat Enron mengumumkan bahwa perusahaan harus gulung tikar, 2 Desember 2001, harga saham Enron hanya 26 sen.
6.      Penghancuran dokumen yang dilakukan oleh David Duncan, ketua partner dari Andersen untuk Enron.

Dampak pelanggaran kode etik Enron Corporation:
1.      Enron, perusahaan ketujuh terbesar di Amerika, perusahaan energi perdagangan terbesar di dunia menyatakan dirinya bangkrut. Saat itu, kasus itu merupakan kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS dan menyebabkan 4.000 pegawai kehilangan pekerjaan mereka.
2.      Saham Enron bernilai 80 dolar As per lembar pada bulan Februasri 2001 tetapi harganya hanya 26 sen per lembarnya saat perusahhan itu mengumumkan kepailitan Enron. Berarti, tabungan dari para pegawai yang bekerja keras selama hdupnya bernilai kosong sekarang ini.
3.      Clifford Baxter, bekas wakil komisaris Enron bunuh diri dengan menembak keplanya. Polisi Houston menemukan mayat Baxter di dalam mobil Mercedesnya yang diparkir di rumah mewahnya di Houston.
4.      Enron Corporation yang awalnya beromzet U$ 100 miliar tiba – tiba saja bangkrut dan harus menanggung rugi tak kurang dari U$ 50 miliar.              ( sumber: www.gudangkuliah.com/analisis-kasus-skandal-enron/ )
5.      Simpanan dana pensiun $ 1 miliar milik 7.500 karyawan habis karena menejemen Enron menanamkan dana tabungan karyawan untuk membeli sahamnya sendiri. ( sumber: www.gudangkuliah.com/analisis-kasus-skandal-enron/ )
6.      Perusahaan Enron dan KAP Andersen mengalami kebangkrutan dan memiliki banyak hutang kepada para pemegang sahamnya, kehilangan kepercayaan klien – nya dan kehancuran yang menyisakan penderitaan bagi banyak pihak.

Dalam kasus Enron tersebut inti dari pelanggaran kode etik yang dilakukan adalah manipulasi laporan keuangan, yaitu dengan melebih – lebihkan laba bersih perusahaan. Manipulasi keuntungan tersebut dilakukan karena keinginan perusahaan agar saham tetap diminati investor. Hal ini terjadi akibat keegoisan satu pihak terhadap pihak lain, dalam hal ini pihak – pihak yang selama ini diuntungkan atas penipuan laporan keuangan terhadap pihak yang telah tertipu. Hal ini buah dari ketidakjujuran, kebohongan atau dari praktik bisnis yang tidak etis yang berakibat hutang dan sebuah kehancuran yang menyisakan penderitaan bagi banyak pihak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar